suarairama – Dunia musik kembali diguncang kabar perseteruan antara dua sosok yang dulu pernah berdiri di panggung yang sama. Andy Summers, gitaris The Police, resmi menggugat Sting, vokalis sekaligus basis band legendaris asal Inggris itu, terkait persoalan royalti lagu. Gugatan ini membuka kembali kisah lama yang membayangi perjalanan The Police, meski band tersebut sudah bubar sejak pertengahan 1980-an.
The Police dikenal sebagai salah satu band terbesar era 70–80-an, dengan deretan hit yang terus diputar hingga kini. Lagu-lagu seperti Every Breath You Take, Roxanne, hingga Message in a Bottle tak hanya mengangkat nama band, tetapi juga menorehkan sejarah di industri musik dunia. Meski bubar lebih dari tiga dekade, musik mereka tetap hidup dan mendatangkan pemasukan besar dari penjualan katalog, pemutaran radio, hingga platform digital.
Namun di balik kesuksesan itu, Summers menilai ada ketidakadilan dalam pembagian royalti. Ia menegaskan bahwa karya The Police lahir dari kebersamaan tiga personel: Sting, Andy Summers, dan Stewart Copeland. “Suara gitar, ritme drum, dan vokal adalah satu kesatuan. Tanpa itu semua, The Police tidak akan terdengar seperti yang orang kenal,” begitu inti argumen Summers dalam dokumen gugatannya.
Bagi penggemar, kabar ini terasa menyedihkan. The Police adalah simbol kolaborasi dan kreativitas di masa keemasan musik rock. Namun, seperti kisah banyak band besar lain, masalah finansial kerap menjadi batu sandungan. Sejarah mencatat, The Beatles, Pink Floyd, hingga Oasis pernah terjerat konflik serupa. Royalti—yang seharusnya menjadi wujud penghargaan atas karya seni—tak jarang justru berubah menjadi sumber perpecahan.
Sting, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai musisi dengan karier solo cemerlang, belum memberi tanggapan resmi. Sosok bernama asli Gordon Sumner itu kini lebih sering tampil sebagai penyanyi solo dengan gaya elegan dan penuh refleksi. Ia kerap berbicara tentang musik sebagai medium penyembuhan dan filsafat hidup. Namun, di balik citra itu, gugatan dari sahabat sekaligus rekan musik lamanya tentu menjadi tantangan yang sulit diabaikan.
Persoalan ini juga menyoroti kompleksitas industri musik modern. Sebuah lagu tidak hanya dilihat sebagai karya seni, melainkan juga aset bernilai ekonomi tinggi. Setiap lirik, aransemen, bahkan bagian instrumen tertentu bisa menjadi dasar klaim kepemilikan. Semakin besar nilai komersial lagu tersebut, semakin sensitif pula persoalan pembagian hasilnya.
Pengamat musik menilai, kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi musisi generasi baru. Banyak band yang di awal perjalanan menganggap pembicaraan soal kontrak dan hak cipta sebagai hal sepele. Padahal, kejelasan sejak dini sangat penting agar tidak muncul konflik di kemudian hari. Transparansi dan keadilan menjadi kunci agar persahabatan dan kerja sama kreatif bisa bertahan lama.
Meski gugatan hukum sedang berlangsung, para penggemar berharap konflik ini tidak menodai warisan besar The Police. “Kami tumbuh bersama lagu-lagu mereka. Rasanya sayang kalau kenangan indah itu berubah jadi perseteruan hukum,” tulis seorang penggemar di forum musik daring.
Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa langkah Summers wajar dilakukan. Menurut mereka, setiap musisi berhak memperjuangkan pengakuan dan bagian yang layak dari karya yang telah ia sumbangkan. Bagaimanapun juga, musik The Police bukan hasil kerja satu orang saja.
Kini, dunia menunggu bagaimana kasus ini akan berkembang. Apakah Sting dan Summers bisa menemukan jalan damai melalui mediasi, ataukah perseteruan ini berlanjut panjang di meja pengadilan. Yang jelas, cerita ini kembali mengingatkan publik bahwa di balik gemerlap panggung dan indahnya alunan lagu, terdapat dinamika kompleks yang tak selalu terlihat.
Apapun hasilnya, sejarah sudah mencatat The Police sebagai salah satu band paling berpengaruh di dunia. Lagu-lagu mereka akan tetap hidup, bahkan di tengah bayang-bayang sengketa. Harapan banyak orang sederhana: agar musik tetap menjadi perekat, bukan pemisah, bagi mereka yang dulu pernah menciptakan harmoni abadi.